AKIBAT KEBIJAKAN BARU KEMENDIKBUD INI, 800 RIBU GURU TERANCAM TIDAK DAPAT NAIK PANGKAT !!

Like Fanspage Facebook kami untuk mendapatkan berita dan informasi terupdate secara otomatis di beranda facebook anda. Terima Kasih ^^
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat malam bapak dan ibu sekalian. Salam hangat dan sejahtera untuk kita semua. Kebijakan baru Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mewajibkab guru meneliti dan menulis karya ilmiah sebagai bagian kenaikan pangkat atau golongan karir guru, diprotes Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo.

“Saya merasa prihatin. Pasti akan semakin banyak guru stress. Jadi, kebijakan itu harus dikoreksi, diluruskan, dan diperbaiki,” ucap Sulistyo di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, jika kebijakan itu benar diberlakukan, maka lebih dari 800 ribu orang guru dan pengawas tidak dapat naik pangkat karena kewajiban itu. PGRI sangat mendukung upaya peningkatan profesionalitas guru.

Menurutnya, menjadikan penelitian dan menulis karya ilmiah sebagai bahan untuk naik pangkat dan sebagai pemberian tunjangan profesi guru sangat tidak relevan.

“Sungguh kebijakan yang keliru, menyengsarakan guru, dan dapat berdampak pada gagalnya pelaksanaan tugas utama guru,” ujar dia. Selain itu, Sulistyo menuturkan, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Hal itu diperjelas dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen Nomer 14 Tahun 2015 dalam pasal 1 ayat (1). Jadi, guru berbeda dengan dosen. Meskipun sama-sama termasuk tenaga pendidik.
“Peran sebagai seorang guru bukan peneliti dan bukan juga ilmuwan. Kalau pun guru harus juga melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah, maka kegiatan itu tidak boleh menjadi kewajiban yang menghambat nasib guru jika dia sudah melaksanakan tugas pokoknya dengan baik,” paparnya.
Kegiatan publikasi ilmiah baik meneliti dan menulis karya ilmiah beserta varian lainnya, seharusnya hanya dijadikan sebagai pendukung untuk meningkatkan mutu profesionalitasnya.
(dilansir dari situs : www.jpnn.com )
Demikian berita dan informasi yang dapat Pilah Berita sampaikan pada malam hari ini. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Jika berkenan mohon berikan komentarnya. Atas perhatian dan kunjungannya kami ucapkan terima kasih.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "AKIBAT KEBIJAKAN BARU KEMENDIKBUD INI, 800 RIBU GURU TERANCAM TIDAK DAPAT NAIK PANGKAT !!"

  1. DENGAN DIWAJIBKANNYA MENULIS, BERARTI SEMAKIN TIGGI PANGKATNYA SEMAKIN TINGGI PULA KEMAMPUAN PROFESIONALNYA YANG DAPAT DICONTOH ORANG LAIN. SAYA SETUJU DENGAN KEWAJIBAN MENULIS PENELITIAN, KARENA PENELITIAN UNTUK GURU HANYALAH BERUPA DESKRIPSI DARI YANG DILAKUKAN GURU DI KELASNYA. DENGAN MELAKSANAKAN PENELITIAN TERSEBUT AKAN TAMPAK GURU YANG MEMILIKI KEMAMPUAN DAN TIDAK, SEHINGGA BERDAMPAK PADA PENGHASILAN YANG BERNEDA [ULA. HANYA SAYANGNYA PEMERINTAH(DIKNAS) KURANG PANDAI MELAKSANAKAN ATURAN. aTURAN KENAIKAN PANGKAT DENGAN MENGHARUSKAN MEMILIKI NILAI PUBLIKASI ILMIAH, TELAH DITETAPKAN SEJAK TAHUN 2010, BARU DIEFEKTIFKAN SEKITAR TAHUN 2014-2015.

    BalasHapus
  2. Sudah waktunya guru Indonesia membudayakan baca, tulis dan penelitian. Bukanya sedikit-sedikit protes, meinta yang enak-enak saja. menuntut setifikasi namun tidak memikirkan bagaimana anak bisa berprestasi. Lanjutkan. Agar guru bisa berbenah diri. Mungkin kelak jika guru orla berganti guru-guru muda pasti pendidikan kita akan membaik.

    BalasHapus
  3. Nyatanya teman2 guru yg mau nulis juga dah bnyk yg naik pangkat. Tinggal niatnya saja dan tentu kemampuannya guru2 hrs ditingkatkan. Penelitian guru sangat sederhana kok, tidak seperti dosen. Justru dg nulis akan dpt membedakan guru kw 1 atau kw 2. Guru mana yg berprestasi dan guru yg biasa.

    BalasHapus