TUNJANGAN PROFESI GURU TIDAK LAYAK DILANJUTKAN??

Pilahberita.com – Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat Pagi bapak dan ibu guru seluruh indonesia yang berbahagia. Salam hangat dan sejahtera untuk kita semua. Kali ini kami akan membagikan info terbaru terkait tunjangan profesi Guru, Mohon disimak ya :)
TUNJANGAN PROFESI GURU TIDAK LAYAK DILANJUTKAN??
Tunjangan Profesi Guru
Kebijakan tentang Tunjangan Profesi Guru mulai disorot oleh beberapa kalangan. Begitu besarnya anggaran yang dikeluarkan namun belum mendapatkan manfaat yang setimpal membuat kebijakan ini patut dipertanyakan. Pelaku pendidikan sendiri pun menyadari bahwa tunjangan profesi ini belum bisa dengan serta merta mengatrol mutu dan kualitas pendidikan sehingga tunjangan profesi Guru tidak layak dilanjutkan.
Bahkan dengan tunjangan ini banyak anak didik yang menjadi korban. Banyak kita temui Guru lebih concern untuk mencukupi kelengkapan alat administrasi nya dari pada untuk mengajar. Dengan perangkat yang seabrek tentu guru disibukkan dengan membuat perangkat dimana jika ada kekurangan tentu saja Tunjangan Profesi nya tidak bisa cair. Sedangkan membuat perangkat tersebut juga membutuhkan waktu dan konsentrasi yang lebih. Di sini siswa menjadi terlantar, sehingga banyak guru yang hanya memberikan banyak tugas pada siswa nya kemudian melanjutkan pekerjaan nya membuat perangkat tersebut.
Sebenarnya pemberian tunjangan profesi ini diberikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan pemberian tunjangan profesi guru masih belum diimbangi dengan peningkatan mutu guru.
“Kenyataannya berbanding terbalik. Dari hasil survei menyebutkan ternyata pemberian tunjangan profesi tidak meningkatkan mutu guru dan prestasi peserta didik tidak mengalami perubahan signifikan,” kata Hamid dikutip dari Republika .
Kenyataan ini membuat program Tunjangan Profesi Guru layak dievaluasi kembali. Efisiensi dan efektivitasnya perlu diperdalam sehingga benar-benar bisa meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
“Pembayaran tunjangan profesi guru untuk tahun 2015 yang mencapai Rp80 triliun sama dengan anggaran Kemdikbud per tahunnya. Jumlahnya terus meningkat dan menyedot APBN. Namun sayangnya, peningkatan budget pembayaran tunjangan guru itu tidak diimbangi dengan peningkatan mutu guru,” kata Hamid.
Semoga ke depan kita semua bisa meningkatkan mutu pendidikan yang ideal bagi seluruh warga negara Indonesia. Seyogyanya patut kita mulai dari diri kita sendiri, jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah lelah.
Bagaimana pendapat bapak dan ibu guru sekalian?? Corat Coret dikolom komentar dibawah ya..
Demikian berita dan informasi yang dapat kami bagikan pada hari ini. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Atas perhatian dan kunjungannya kami ucapkan terima kasih. Jangan lupa Like, komentar dan bagikan info ini ya, Akhir kata kami ucapkan banyak-banyak terima kasih. Wassalam.

Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "TUNJANGAN PROFESI GURU TIDAK LAYAK DILANJUTKAN??"

  1. jasa guru memang tak terbalaskan

    BalasHapus
  2. Nah lho...pye donk kalo begini...

    BalasHapus
  3. Memang benar apa yg di sampaikan itu berdasarkan hsl evaluasi,carilah format lain yg lebih menguntungkan semua tapi jgn lupa anda bisa karena guru juga jadi sudah sepantasnya guru lebih dihargai jgn sampai di rugikan tmks.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, memang kenyataan di lapangan pemberian tunjangan profesi guru masih belum diimbangi dengan peningkatan mutu guru.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. hrse pemerintah ubah sistem yg blm pas, jdikan guru lbh fokus mendidik n mengajar.. trtma tgkt SD yg blm ada TU, kalo guru d bebani laporan BOS, aset barang, dapodik, padamu,dll di luar tupoksi utamnya mengajr kpn gru fokus.. n jgn pula byk tagihan n tuntutan yg justru membebani, kalo sertfksi ditiadakan apa bedane dg penjaga sekolah gajine, artis kdg ada yg mngjrkn moral jelek sj tinggi, msok guru g d berikn sesuai tupoksi. kalo qt mengacu pd sistem orde baru kpn qt majune

    BalasHapus
  6. Tunjangan diberikan pada guru berprestasi dan juga yg meningkatkan prestasi siswa nya...
    Jgn di sama ratakan untuk memberikan semangat kompetisi peningkatan prestasi pada guru....

    BalasHapus
  7. Makanya dalam memperoleh kesejahteraannya, para guru hendaknya jangan diribetkan dengan sistem administrasi yang carut marut itu. Yang membuat sistem administrasi dan pendanaan sertifikasi guru carut marut kan pemerintah sendiri. Kalau sistemnya dibuat mudah, sudah pasti guru jadi konsen mengajar. Guru itu sangat layak dihargai, jadi jangan dibuat-buat seperti mengemis penghargaan.

    BalasHapus
  8. Kalau ada pihak yang mengambil kesimpulan bahwa pemberian TPP belum setimpal dengan manfaat yang dihasilkannya, saya setuju. Tapi kalau dikatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kesibukan guru mengerjakan perangkat mengajar, menurut saya perlu dipertimbangkan kembali. Barangkali yang perlu dievaluasi adalah proses pemberian sertifikat pendidiknya. Kalau proses pemberian sertifikatnya benar, maka akan menghasilkan guru-guru yang benar-benar profesional, sehngga pasti dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Hasilnya apa? Guru-guru yang sebenarnya tidak memenuhi standar kualitas GURU PROFESIONAL banyak yang lolos dan memperoleh SERTIFIKAT GURU PROFESIONAL. Jadi sangatlah tidak obyektif kalau digeneralisir bahwa pemberian TPP tidak dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Penilaian itu akan merugikan guru-guru yang benar-benar sudah memenuhi standar kualitas sebagai GURU PROFESIONAL.

    BalasHapus
  9. Output yang dihasilkan pendidikan (guru) tidak seperti apa yang dihasilkan pabrik/industri (buruh) yang cukup bbrp menit sdh kelihatan. Harusnya birokrasi/pucuk pimpinan yang mengurusi pendidikan adalah orang2 yg kompeten/mengerti ttg dunia guru (pendidikan). Guru sebagai profesi harusnya dipekerjakan secara profesional (sbgmana dokter, notaris, akuntan dll) tidak dibebani oleh pekerjaan2/urusan2 yang membebani guru sehingga bisa menghambat profesionalitas mereka sbg seorang guru. Sekarang coba kalau kita mau berpikir jujur/jernih, apakah cukup tunjangan segitu (1xgaji yg pembayaran banyak telatnya lagi) untuk biaya2 peningkatan kompetensinya: ikut seminar/short course/workshop rutin, beli buku/jurnal ilmiah, penelitian2, berlangganan speedy diatas 5 Mb, study banding dll. Bandingkan dengan PNS yang lain, misal Pajak, yang berpenghasilan sampai puluhan juta, padahal seorang Guru/PNS Guru, gaji plus Tunjangan belum menyentuh angka 2 digits (itu sdh ramai). Bagaimana seorang Guru bisa berwibawa kalau dihadapan murid2nya yang nota-bene nya anak seorang buruh pabrik (lulus SMA) tp bergaji 4-5 jt-an? apalagi dihadapan murid dari anak seorang pegawai BUMN dg masa kerja 1-2 th yg sudah bergaji diatas 2 digits. Kalu kita memang ingin serius membangun dunia pendidikan tingkatkan kompetensi Guru2nya, dengan salah satunya meningkatkan kesejahteraanya diatas seperti sekarang (Gaji+TPP), evaluasi mereka pertahun thd tingkat kompetensinya, Bila ini berjalan anak2 Indonesia lulusan SMA terbaik dari negeri ini akan berlomba-lomba punya cita2 mulia berprofesi sebagai Guru. Tirulah negeri2 yang lebih maju spt Jepang, Korsel bahkan Malaysia dalam memperlakukan profesi Guru, pencipta generasi gemilang untuk masa depan sebuah bangsa...

    BalasHapus
  10. ukuran apakah yg dipedomani sebagai guru yg layak mendapat tunjangan profesi ? bukankah jabatan guru adalah sebuah profesi, mengenai profesionalisme guru apa hasilnya sekarang ini belum dilihat, byk yg sudah jadi pejabat negara termasuk mentri pend. prof, Dr, bahkan sampai pada presiden , pemimpin dunia apakah itu bukan hasil kerja guru yg profesional ? , karena setahu sy itu tidak terjadi begitu saja tanpa ada guru yg profesional
    karena itu tunj. profesi adalah suatu pengghargaan atas hasil yg diperoleh , output proses belajar di sekolah , oleh tenaga yg guru yg profesional , soal ukurannya memang tidaklangsung pada produk yg dilihat tetapi membutuhkan proses seperti guru sd, smp, sma, tetapi hasilnya akan dirasakan ilmu yg didapat akan diterapkan kalau sdh bekerja, hidup guru ! kompetensi ok

    BalasHapus